Buscador de Noticias Mundial. La mas completa informacion para todos los usuarios en todos los idiomas.



Bercerita Puisi Sutardji

SM/Aristya Kusuma Verdana  MEMBACA PUISI : Penyair Sutardji Calzoum Bachri saat tampil dalam acara Sastra Pelataran ke-7 di halaman Gedung Pers PWI Jateng. (63)

SM/Aristya Kusuma Verdana
MEMBACA PUISI : Penyair Sutardji Calzoum Bachri saat tampil dalam acara Sastra Pelataran ke-7 di halaman Gedung Pers PWI Jateng. (63)

SEMARANG – Gitar elektrik dan gitar akustik melahirkan menimbulkan irama musik blues. Penyair Sutardji Calzoum Bachri memegang pelantang. Ia dekatkan ke mulut dan meniup harmonika. Musik blues membuka penampilan penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941 dalam acara Sastra Pelataran ke-7 yang digelar di halaman Gedung Pers PWI Jateng.

Dua gitar tetap memainkan nada blues. Sementara Sutardji mengucapkan kata-kata di dalam puisi karyanya. Sesekali, harmonika kembali dimainkannya. ”Saya kurang sehat jadi mungkin pembacaan tidak bisa maksimal,” kata Sutardji.

Sejenak, dia memberi kode supaya dua pemain gitar berhenti bersuara. Kali ini, Sutardji berdiri di podium, pelantang ditempatkan di penyangganya. Buku berisi kumpulan puisi sudah digenggamnya. Tanpa iringan musik, ia bacakan puisi berjudul ”Sejak”. ”Berikutnya adalah sajak yang saya tulis pada 1997. Saat perjalanan ke kota di Kolombia, setengah jam terbang dari Bogota, ibu kota Kolombia. Dalam bahasa Spanyol berjudul ”La Noche De Las Palabras (El Diario De Medellin)’. Malam Kata- Kata, Buku Harian Madellin,” terangnya.

Kemudian, ia membaca puisi yang dituliskannya untuk para penyair berjudul ”Para Penyair”, yang dilanjutkan dengan puisi dengan inspirasi kejadian tsunami di Aceh pada 2004. Dalam puisi ini, Sutardji tidak menyebut kata ”tsunami” di dalam puisinya. ”Sebab, kalau saya sebut itu, berarti saya ambil saja kata dari kamus. Sudah jelas artinya. Bukan makna yang hendak disampaikan.”

Tanya Jawab

Sutardji menutup penampilannya dengan membacakan puisi yang ditulisnya untuk bulan ramadan, berjudul ”Laila Seribu Purnama”. Dalam sesi tanya jawab, Mustofa Bisri atau Gus Mus yang hadir di tempat duduk penonton menjadi penanya pertama. ”Saat ini puisi bagi beliau (Sutardji) adalah sambilan. Pekerjaan sekarangnya adalah suluk. Bisa kita tanyakan sampai mana perjalanan beliau tentang itu,” tutur Gus Mus.

Di sesi ini pula, Sutardji sempat ditanya beberapa penonton. Termasuk Sitok Srengenge yang mengungkapkan bahwa kebesaran Sutardji bukan sebagai presiden penyair Indonesia, melainkan kebesarannya adalah puisi-puisinya. ”Dunia ini imajinasi Tuhan. Tuhan bermimpi jadilah imajinasi. Jadilah dunia. Manusia juga berimajinasi jadiliah puisi, ideologi,” ungkap Sutardji. (akv-63)

FUENTE:

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/bercerita-puisi-sutardji/